난 영원한 너의 피터팬 (I am your eternal Peter Pan),

난 영원한 너의 피터팬 (I am your eternal Peter Pan),

Jumat, 05 Juni 2015

Kerja Sama Ekonomi Internasional

Manfaat dan Bentuk-Bentuk Kerja Sama Ekonomi Internasional
Kerja sama internasional adalah kerja sama yang dilakukan satu negara dengan negara lain atau dengan beberapa negara lain sekaligus. Adapun dari kerja sama ekonomi internasional adalah kerja sama dalam beberapa negara yang saling menguntungkan dibidang ekonomi. Dalam sebuah kerja sama ekonomi yang dilakukan dengan antaranegara, setiap dari pihak pelakunya mengharapkan keuntungan seperti kerja sama antara negara maju dan negara berkembang.  Negara maju membutuhkan bahan mentah untuk diolah dan diproduksi sedangkan dari negara berkembang menggunakan barang-barang yang sudah jadi seperti mesin, peralatan, teknologi, dan modal yang juga berasal dari negara maju.


A. Manfaat Kerja Sama Ekonomi Internasional
Indonesia adalah salah satu dari negara berkembang. Dalam jalannya ekonomi indonesia, membutuhkan bantuan dari negara lain. Sehingga hubungan kerja sama pada bidang ekonomi itu sangat dibutuhkan demi terciptanya suatu negara yang sejahtera. Manfaat-manfaat yang dapat diperoleh dari kerja sama ekonomi internasional yang dilakukan bagi perekonomian Indonesia adalah sebagai berikut :

  • Kemajuan pada bidang perekonomian, dapat dilihat dari perjalanan ekspor-impor barang dan jasa. Jika ekspor tinggi maka akan bermanfaat karena devisa akan meningkat
  • Indonesia memiliki kesempatan dalam menimba ilmu pengetahuan dan juga teknologi dari negara maju
  • Memperkuat daya tawar dan posisi indonesia dalam dunia internasional 
  • Kegiatan ekonomi di indonesia dapat berkembang karena modal asing dapat masuk 
  • Tingginya permintaan akan barang dan jasa baik itu dari dalam maupun juga dari luar negeri yang dapat menekan harga pokok per unit produksi
  • Negara dapat mengimpor barang-barang tertentu yang jika diproduksi akan lebih mahal 
  • Meningkatkan kecerdasan, keterampilan dan kreativitas tenaga pekerja dari tuntutan kegiatan ekspor ke luar negeri yang meningkat
  • Adanya kemudahan dalam mendapatkan bahan baku dan bahan penolong yang diperlukan dalam setiap proses produksi 
  • Membuka lapangan kerja dan menurunkan angka pengangguran dan kemiskinan


B. Bentuk-Bentuk Kerja Sama Ekonomi Internasional

1. Kerja Sama Bilateral
Kerja sama ekonomi bilateral adalah kerja sama ekonomi yang terjadi antara dua negara. Bentuk kerja sama ekonomi internasional secara bilateral lebih sering dilakukan seperti pertukaran kedutaan besar dan kunjungan antarnegara.
2. Kerja Sama Ekonomi Regional 
Kerja sama ekonomi regional adalah bentuk kerja sama ekonomi yang dilakukan antara negara yang terletak pada suatu kawasan tertentu. Contoh lembaga kerja sama ekonomi regional adalah APEC, AFTA, dan ASEAN.
 
3. Kerja Sama Ekonomi Multilateral 
Kerja sama ekonomi multilateral adalah bentuk kerja sama yang dilakukan antara dua negara atau lebih yang tidak dibatasi oleh wilayah tertentu dengan bersifat internasional Contohnya IMF dan ILO.
4. Kerja Sama Ekonomi Antarregional 
Kerja sama ekonomi antarregional adalah bentuk kerja sama yang dilakukan antara dua atau lebih lembaga-lembaga ekonomi regional. Contoh kerja sama ekonomi antarregional adalah ASEAN dan Uni Eropa.
5. Kerja Sama Ekonomi Berdasarkan Tujuan dan Lapangan Usaha 
Kerja sama ekonomi ini adalah tidak terbatas pada wilayah dan hubungan internasional saja, melainkan kerja sama yang dibentuk dengan dasar tujuan dan lapangan usaha. Contohnya OECD dan OPEC.



sumber : http://www.artikelsiana.com/2015/03/Manfaat-Bentuk-Kerja-Ekonomi-Internasional.html

Tarik Ulur Hubungan Kerja Sama Bilateral Indonesia-China dalam Ekspor dan Impor (Contoh Kasus Perekonomian Internasional)




Contoh Kasus Pertama


Sebagian produk dalam negeri rawan terkena dampak perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). Survei Kementerian Perindustrian menyebut enam sektor yang paling terkena dampak perdagangan bebas itu.

Selama periode 2006-2010, total ekspor migas dan non migas Indonesia ke China rata-rata tumbuh 15,4 persen. Namun, rata-rata pertumbuhan total impor China ke Indonesia naik dua kali lipat, yakni sebesar 31,5 persen.
Enam sektor utama yang paling rawan terkena dampak perdagangan bebas itu adalah logam dengan kerawanan sebesar 70 persen, furnitur (61 persen), garmen (57 persen), kain grey (56 persen), dan mesin (45 persen).
Meski berpotensi mengancam sejumlah sektor perdagangan itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Atma Jaya, A Prasetyantoko, menyatakan tidak perlu ada renegosiasi aturan ACFTA dengan China. Sebab, menurut beliau, dari pengalaman proteksi industri di masa orde baru, yang muncul justru industri yang penuh aksi ambil untung. "FTA (Free Trade Agreement) bukan hanya dagang, tapi juga investasi yang progresif. Kalau bisa memanfaatkan ini, kesempatan meningkatkan kapasitas ekonomi makin besar," kata Prasetyantoko pada diskusi bertema ACFTA: Hantu atau Ketidaksiapan Pemerintah di Warung Daun, Jakarta, Selasa, 26 April 2011.
Menurut Prasetyantoko, sejak ACFTA 2010, impor Indonesia memang melonjak dua kali lipat. Tapi, sebenarnya tren defisit ekspor Indonesia relatif meningkat. Beliau menyebut pertumbuhan impor dari Jepang merupakan yang terbesar yakni 72,37 persen, disusul Thailand (62,35 persen), Taiwan (47,21 persen), Korea Selatan (46,88 persen), dan China 45,93 persen.
Prasetyantoko menambahkan, ada beberapa penyelamatan jangka pendek terkait pemberlakuan ACFTA itu, yakni perlindungan produk dalam negeri (safeguard), program antidumping maupun kewajiban mencantumkan produk sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut beliau, ACFTA dalam jangka menengah memberi kesempatan untuk memacu daya saing perekonomian domestik. Dalam jangka menengah, perlu memanfaatkan peluang dengan mengidentifikasi sektor yang komplemen terhadap produk China, mendorong peluang non perdagangan seperti investasi langsung untuk kapasitas produksi dan memperbaiki logistik.
Dari rilis Bank Dunia disebutkan, berdasarkan indeks logistik, Indonesia berada di peringkat ke-75 dibandingkan China (27), Afrika Selatan (28), dan Malaysia (29). "Kita masih tertinggal jauh soal logistik," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi Anggito Abimanyu. Menurut dia, pemerintah tidak perlu renegosiasi perjanjian perdagangan ASEAN-China, karena lebih menyulitkan dan membutuhkan proses lama.  "Karena (renegosiasi) bukan hanya dengan China, tapi juga negara ASEAN lainnya," tuturnya. Beliau menyebutkan, defisit dengan China US$5,2-5,7 miliar, tapi surplus besar dengan negara lain, yakni US$26,1 miliar. "Sulit mengatakan kita injury (menderita kerugian) dari perdagangan bilateral. Karena semua dilihat dari konteks multilateral dan total neraca perdagangan," ujar Anggito
Perjanjian ACFTA yang disepakati menteri perdagangan ASEAN-China, menurut beliau, ada tiga. Pertama, ACFTA tetap dilanjutkan dan tidak ada rencana notifikasi karena kerugian akibat kecurangan perdagangan (unfair trade). Kedua, bila suatu negara mengalami defisit, negara surplus harus mendorong impor. Ketiga, pembentukan tim pengkajian terhadap perdagangan bilateral.
Bila memang ada kerugian akibat perdagangan bebas, maka membutuhkan biaya mahal dan proses panjang untuk membuktikan hal tersebut. Selain itu, kesepakatan bukan hanya dengan China tapi juga dengan negara ASEAN.  Negosiasi dengan menerapkan kompensasi apabila terjadi kerugian di satu pos tarif tertentu memakan waktu lama dan rumit. "Saya pesimis dan belum melihat ada langkah bilateral. Berdasarkan pengalaman saya, pejabat kita tidak ahli dalam negosiasi," ungkapnya. Anggito menyebut, di samping perlindungan pemerintah bila terdapat kecurangan, masalah internal dalam negeri harus dibenahi lebih dulu.


Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/216778-enam-sektor-paling-rawan-serbuan-produk-china


Contoh Kasus Kedua   



Kementerian Perdagangan meyakini Indonesia berpeluang memperluas pasar ekspor China karena ada kerja sama perdagangan internasional Kesepakatan Pasar Bebas ASEAN-China  (ACFTA). "Meski selama ini ACFTA dinilai selalu menguntungkan China karena bea masuk impor produk mereka ke Indonesia nol persen dan merugikan pasar nasional, kami optimistis China tetap potensial dibidik," kata Kasubdit Jasa Bisnis, Distribusi dan Keuangan Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Iskandar Panjaitan, di Surabaya, Selasa.
Ditemui dalam satu pertemuan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya, ia menjelaskan, selama ini transaksi perdagangan China dengan Jawa Timur defisit 3,85 miliar dolar AS. "Dengan minus tersebut, masih ada peluang bagi Indonesia gencar menyasar pasar China mengingat jumlah penduduknya lebih besar dan kondisi perekonomian mereka semakin membaik saat ini," ujarnya.
Di sisi lain, beliau merinci, tantangan dari ACFTA 2011 di antaranya produk China kian membanjir di pasar global termasuk Indonesia. "Berbagai produk nasional yang terancam produk China antara lain tekstil dan produk tekstil, alas kaki, elektronika, ban, furnitur, industri permesinan, mainan anak-anak, serta otomotif," katanya.
Bahkan, terkait manfaat yang dapat diambil dari kesepakatan perdagangan bebas terdahulu, tambah dia, ACFTA mengajarkan Indonesia mengidentifikasi masalah dan merencanakan metode penanggulangannya sejak awal. "Masalah tersebut khususnya dikarenakan produk yang diproduksi kedua negara (Indonesia dengan China) bersaing secara langsung," katanya.
Di samping itu, ulas dia, ACFTA mengajarkan Indonesia tetap percaya diri karena kenyataannya komposisi impor di Tanah Air dari China menunjukkan dominasi bahan baku 75,1 persen, barang modal 16,7 persen, dan barang konsumsi 8,2 persen. "Sementara, nilai ekspor Indonesia ke China juga melonjak drastis menjadi 12,4 miliar dolar AS pada 2010 dibandingkan tahun sebelumnya di posisi 7,7 miliar dolar AS," katanya. Di sisi lain, beliau optimistis, dengan ACFTA maka angka pengangguran di Indonesia semakin berkurang menyusul tingkat pengangguran di China mengalami penurunan menjadi 2,68 persen selama 2010. Pengurangan angka pengangguran tersebut dipicu oleh kian meningkatnya kinerja ekspor impor China.


Sumber : http://www.antaranews.com/berita/268898/indonesia-bisa-perluas-pasar-ekspor-china

Contoh Kasus Sengketa Ekonomi



PT Sara Lee Indonesia, perusahaan besar yang bergerak di consumer product, diguncang masalah dengan karyawanya. Sekitar 200 buruh bagian pabrik roti yang tergabung dalam Gabungan Serikat Pekerja PT Sara Lee Indonesia, menggelar aksi mogok kerja di halaman pabrik, Jalan Raya Bogor Km 27 Jakarta Timur, Rabu (19/11/10).
Aksi mogok kerja ini, ternyata tidak hanya di Jakarta namun serentak di seluruh distributor Sara Lee se-Indonesia. Bahkan, buruh yang ada di daerah mengirim ‘utusan’ ke Jakarta untuk memperkuat tuntutannya. Utusan itu bukan orang, namun berupa spanduk dari Sara Lee yang dikirim dari beberapa daerah.
Dalam aksinya di depan pabrik, para buruh yang mayoritas perempuan ini membentangkan spanduk berisikan tuntutan kesejahteraan kepada manajemen perusahaan yang berbasis di Chicago Sara Lee Corporation dan beroperasi di 58 negara, pasar merek produk di hampir 200 negara serta memiliki 137.000 karyawan di seluruh dunia.
Dengan mengenakan kaos putih dan ikat merah di kepalanya. Buruh merentangkan belasan spanduk, di antaranya bertuliskan: “Kami bukan sapi perahan, usir kapitalis”, “Rp 16 triliun, Bagian kami mana?”, “Jangan lupa karyawan bagian dari aset perusahaan juga.” “Kami Minta 7 Paket”, “Perusahaan Sara Lee Besar Kok Ngasih Kesejahteraan Kecil” juga tuntutan lain tentang kesejahteraan dan gaji yang rendah.
Spanduk juga terpasang di pagar pabrik Sara Lee, juga ada sehelai kain berisi tanda tangan para pekerja dan 12 poster yang mewakili suara masing-masing tim dari berbagai daerah, seperti Jakarta, Banyuwangi, Medan, Makassar, Denpasar, Jember, Surabaya, Madiun, Kediri, Gorontalo, Samarinda, Lombok dan Aceh.
Poster dari Surabaya GT tertera beberapa kalimat yang berbunyi: “Kami tidak akan berhenti mogok, sebelum kalian penuhi tuntutan buruh, penjahat aja tahu balas budi, kalian?” Juga poster dari Tim Banyuwangi menyuarakan: “Kedatangan kami bukan untuk berdebat, kami datang untuk meminta hak kami, jangan bersembunyi di belakang UU, dan jangan ambil jatah kami, ayo bicaralah untuk Indonesia.”
“Kami terpaksa mogok karena jalan berunding sudah buntu dari pertemuan tripartit antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja. Banyak tuntutan yang kami ajukan mulai kesejahteraan, peningkatan jumlah pesangon dan kompensasi dari manajemen,” ungkap seorang buruh wanita yang enggan disebut namanya.
Buruh takut menyebut nama, sebab manajemen perusahaan akan terus melakukan intimidasi yang menyakitkan. “Ini aksi dalam jumlah yang kecil, dan menggerakan lebih besar dan sering melancarkan aksi, jika tuntutan kami tak dikabulkan,” sambungnya.
Perwakilan manajemen sempat mengimbau peserta aksi mogok untuk kembali bekerja melalui pengeras suara, namun ditolak oleh pekerja. Hingga kini aksi buruh terus bertambah sebab karyawan dari distributor Jakarta, Bogor, Tanggeran, Depok dan Bekasi satu persatu memperkuat aksinya itu.
Buruh lainnya mengatakan kasus ini bermula dari penjualan saham Sara Lee dijual kepada perusahaan besar. Ternyata, perusahaan baru itu Setelah enggan menerima karyawan lain, sehingga nasib karyawan menjadi terkatung-katung. Bahkan, memutus hubungan kerja seenaknya saja. Buruh pun aktif demo. Sara Lee merasa malu dengan aksi yang mencoreng perusahaan raksasa ini sehingga siap melakukan perundingan tripartit. Sayangnya, hingga kini belum ada kesepakatan karena manajemen perusahaan memberikan nilai pesangon yang sangat rendah, tak sesuai pengabdian karyawan.



sumber : http://handikosuharso.blogspot.com/2011/04/penyelesaian-sengketa-ekonomi.html

Minggu, 04 Januari 2015

[EKONOMI KOPERASI] Evaluasi Keberhasilan Koperasi Dilihat dari Sisi Anggota dan Perusahaan

EKONOMI KOPERASI

EVALUASI KEBERHASILAN KOPERASI
DILIHAT DARI SISI ANGGOTA DAN PERUSAHAAN

  


Nama                  : Irene Putri Islami
Kelas                   : 2EB19
NPM                   : 24213467


UNIVERSITAS GUNADARMA

2014


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji dan Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan karuni-Nya dapat menyelesaikan penyusunan makalah Ekonomi Koperasi mengenai Evaluasi keberhasilan koperasi dilihat dari sisi anggota dan perusahaan
            Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penyusunan makalah Ekonomi Koperasi ini. Dalam pembuatan makalah ini, penulis masih sadar masih banyak terdapat kekurangan, terutama sekali dalam hal penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran pembaca saat penting bagi penulis.
Akhir kata semoga Makalah Ekonomi Koperasi ini dapat berguna bagi diri penulis pada khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.


Bekasi , Desember 2014


Penulis


PENDAHULUAN

Setiap orang dewasa dapat menjadi anggota sebuah koperasi. Keanggotaan koperasi bersifat terbuka dan sukarela. Terbuka artinya anggota koperasi terbuka bagi siapa saja sesuai dengan jenis koperasinya. Keanggotaan koperasi tidak membedakan suku, derajat maupun agama. Sukarela artinya keanggotaan koperasi tidak atas paksaan. Setiap anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Sesuai dengan pengertian koperasi bahwa koperasi merupakan kegiatan ekonomi yang berasaskan kekeluargaan.

Maka tujuan utama koperasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Dengan adanya koperasi, anggota yang membutuhkan kebutuhan pokok dapat membeli di koperasi dengan harga yang lebih murah. Anggota yang membutuhkan pinjaman modal usaha dapat meminjam di koperasi. Dengan demikian para anggota yang berpartisipasi di dalam koperasi dapat terbebas dari rentenir yang meminjamkan uang dengan bunga sangat tinggi.

Partisipasi anggota merupakan faktor utama untuk menentukan keberhasilan koperasi. Semakin tinggi partisipasi anggota, maka idealnya semakin tinggi manfaat yang di terima oleh anggota. Dalam menentukan evaluasi keberhasilannya, koperasi di tentukan oleh salah satu faktornya yaitu adanya partisipasi anggota dan partisipasi dari anggota sangat berhubungan erat dengan efek ekonomis koperasi yaitu manfaat yang di dapat oleh anggota tersebut. Dalam menentukan evaluasi keberhasilannya, koperasi tidak terlepas juga dari sisi perusahaan atau badan usaha yang menyebabkan koperasi dapat berdiri. Kelahiran koperasi di landasi oleh pikiran sebagai usaha kumpulan orang-orang bukan kumpulan modal pada awalnya. Oleh karena itu koperasi juga tidak boleh terlepas dari ukuran efisiensi bagi usahanya, meskipun tujuan utamanya melayani anggota.

Tujuan dari dibentuknya makalah ini yaitu
1.      Untuk mengetahui evaluasi keberhasilan dilihat dari sisi anggota
2.      Untuk mengetahui evaluasi keberhasilan dilihat juga dari sisi perusahaan
3.      Untuk mengetahui tujuan utama koperasi setelah dilihat dari kedua sisi evaluasi keberhasilannya

PEMBAHASAN

I.                   Evaluasi Keberhasilan Koperasi dilihat dari Sisi Anggota

1.      Efek-efek Ekonomis Koperasi
Salah satu hubungan penting yang harus dilakukan koperasi adalah dengan para anggotanya, yang kedudukannya sebagi pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi.
Motivasi ekonomi anggota sebagi pemilik akan mempersoalkan dana (simpanan-simpanan) yang telah di serahkannya, apakah akan menguntungkan atau tidak. Sedangkan anggota sebagai pengguna akan mempersoalkan kontinuitas pengadaan kebutuhan barang-jasa, akan menguntungkan atau tidaknya pelayanan koperasi dibandingkan penjual/pembeli di luar koperasi.

Pada dasarnya setiap anggota akan berpartisipasi dalam kegiatan pelayanan perusahaan koperasi :
Ø  Jika kegiatan tersebut sesuai dengan kebutuhannya
Ø  Jika pelayanan itu di tawarkan dengan harga, mutu atau syarat-syarat yang lebih menguntungkan di banding yang di perolehnya dari pihak-pihak lain di luar koperasi.
Berhasilnya suatu koperasi jika dilihat dari sisi anggota, antara lain yaitu dengan partisipasi anggota tersebut di dalam koperasi, partisipasi anggota dapat dipandang dari beberapa hal antara lain :
A.    Partisipasi dipandang dari sifatnya
Jika dipandang dari segi sifatnya, partisipasi dapat berupa, partisipasi yang dipaksakan (forced) dan partisipasi sukarela (voluntary). Jika tidak dipaksa oleh situasi dan kondisi, partisipasi yang dipaksakan (forced) tidak sesuai dengan prinsip koperasi keanggotaan terbuka dan sukarela serta manajemen demokratis. Partisipasi yang sesuai pada koperasi adalah partisipasi yang bersifat sukarela (voluntary).

B.     Partisipasi dipandang dari bentuknya
Dipandang dari sifat keformalannya, partisipasi dapat bersifat formal (formal participation) dan dapat pula bersifat informal (informal participation). Pada koperasi kedua bentuk partisipasi ini bisa dilaksanakan secara bersama-sama.

C.     Partisipasi dipandang dari pelaksanaannya
Dipandang dari segi pelaksanaannya, partisipasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun tidak langsung. Pada koperasi partisipasi langsung dan tidak langsung dapat dilaksanakan secara bersama-sama tergantung pada situasi dan kondisi serta aturan yang berlaku.
Partisipasi langsung dapat dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas koperasi (membeli atau menjual kepada koperasi), memberikan saran-saran atau informasi dalam rapat-rapat, memberikan kontribusi modal, memilih pengurus, dan lain-lain.
Partisipasi tidak langsung terjadi apabila jumlah anggota terlampau banyak, anggota tersebar di wilayah kerja koperasi yang terintegrasi, sehingga diperlukan perwakilan-perwakilan untuk menyampaikan aspirasinya.

D.    Partisipasi dipandang dari segi kepentingannya
Dipandang dari segi kepentingannya partisipasi dalam koperasi dapat berupa partisipasi kontributis (contributif participation) dan partisipasi intensif (incentif participation). Kedua jenis partisipasi ini timbul sebagai akibat dari peran ganda anggota sebagai pemilik dan sekaligus sebagai pelanggan.

2.      Efek Harga dan Efek Biaya
Partisipasi anggota menentukan keberhasilan koperasi. Sedangkan tingkat partisipasi anggota di pengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : Besarnya nilai manfaat pelayanan koperasi secara utilitarian maupun normatif.
Motivasi utilitarian sejalan dengan kemanfaatan ekonomis. Kemanfaatan ekonomis yang di maksud adalah insentif berupa pelayanan barang-jasa oleh perusahaan koperasi yang efisien, atau adanya pengurangan biaya dan atau di perolehnya harga menguntungkan serta penerimaan bagian dari keuntungan (SHU) baik secara tunai maupun dalam bentuk barang.
Dilihat dari peranan anggota dalam koperasi yang begitu dominan, maka setiap harga yang ditetapkan koperasi harus di bedakan antara harga untuk anggota dengan harga untuk non anggota. Perbedaan ini mengharuskan daya analisis yang lebih tajam dalam melihat peranan koperasi dalam pasar yang bersaing.

3.      Analisis Hubungan Efek Ekonomis dengan Keberhasilan Koperasi
Dalam badan usaha koperasi, laba (profit) bukanlah satu-satunya yang di kejar oleh manajemen, melainkan juga aspek pelayanan. Di tinjau dari konsep koperasi, fungsi laba bagi koperasi tergantung pada besar kecilnya partisipasi ataupun transaksi anggota dengan koperasinya.
Semakin tinggi partisipasi anggota, maka idealnya semakin tinggi manfaat yang di terima oleh anggota. Keberhasilan koperasi di tentukan oleh salah satu faktornya adalah partisipasi anggota dan partispasi anggota sangat berhubungan erat dengan efek ekonomis koperasi yaitu manfaat yang di dapat oleh anggota tersebut.

4.      Penyajian dan Analisis Neraca Pelayanan
Di sebabkan oleh perubahan kebutuhan dari para anggota dan perubahan lingkungan koperasi, terutama tantangantantangan kompetitif, pelayanan koperasi terhadap anggota harus secara kontinu di sesuaikan. Ada dua faktor utama yang mengharuskan koperasi meningkatkan pelayanan kepada anggotanya :

1)      Adanya tekanan persaingan dari organisasi lain (terutama organisasi non koperasi).
2)      Perubahan kebutuhan manusia sebagai akibat perubahan waktu dan peradaban. Perubahan kebutuhan ini akan menentukan pola kebutuhan anggota dalam mengkonsumsi produk-produk yang di tawarkan oleh koperasi.

Bila koperasi mampu memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan anggota yang lebih besar dari pada pesaingnya, maka tingkat partisipasi anggota terhadap koperasinya akan meningkat. Untuk meningkatkan pelayanan, koperasi memerlukan informasi-informasi yang akan datang terutama dari anggota koperasi


II.                Evaluasi Keberhasilan Koperasi Dilihat dari Sisi Perusahaan

Tidak dapat di pungkiri bahwa koperasi adalah badan usaha yang kelahirannya di landasi oleh pikiran sebagai usaha kumpulan orang-orang bukan kumpulan modal. Oleh karena itu koperasi tidak boleh terlepas dari ukuran efisiensi bagi usahanya, meskipun tujuan utamanya melayani anggota.
Ø  Ukuran kemanfaatan ekonomis adalah adalah manfaat ekonomi dan pengukurannya di hubungkan dengan teori efisiensi, efektivitas serta waktu terjadinya transaksi atau di perolehnya manfaat ekonomi.
Ø  Efesiensi adalah: penghematan input yang di ukur dengan cara membandingkan input anggaran atau seharusnya (Ia) dengan input realisasi atau sesungguhnya (Is), jika Is < Ia di sebut (Efisien). Di hubungkan dengan waktu terjadinya transaksi/di perolehnya manfaat ekonomi oleh anggota dapat di bagi menjadi dua jenis manfaat ekonomi yaitu :

1)      Manfaat ekonomi langsung (MEL) :
MEL adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota langsung di peroleh pada saat terjadinya transaksi antara anggota dengan koperasinya.
2)      Manfaat ekonomi tidak langsung (METL) :
METL adalah manfaat ekonomi yang diterima oleh anggota bukan pada saat terjadinya transaksi, tetapi di peroleh kemudian setelah berakhirnya suatu periode tertentu atau periode pelaporan keuangan/pertanggung jawaban pengurus & pengawas, yakni penerimaan SHU anggota.
Manfaat ekonomi pelayanan koperasi yang di terima anggota dapat di hitung dengan cara sebagai berikut:
  • TME = MEL + METL
  • MEN = (MEL + METL) BA
Bagi suatu badan usaha koperasi yang melaksanakan kegiatan serba usaha (multipurpose), maka besarnya manfaat ekonomi langsung dapat di hitung dengan cara sebagai berikut :
  • MEL = EfP + EfPK + Evs + EvP + EvPU
  • METL = SHUa

Efisiensi Perusahaan / Badan Usaha Koperasi :
v  Tingkat efisiensi biaya pelayanan Badan Usaha ke anggota
(TEBP) =    Realisasi Biaya pelayanan / Anggaran biaya pelayanan
(Jika TEBP < 1 berarti efisien biaya pelayanan Badan Usaha ke anggota) 
v  Tingkat efisiensi biaya usaha ke bukan anggota
(TEBU) =   Realisasi biaya usaha / Anggaran biaya usaha
(Jika TEBU < 1 berarti efisien biaya usaha)
v  Efektivitas Koperasi adalah pencapaian target output yang di ukur dengan cara membandingkan output anggaran atau seharusnya (Oa), dengan output realisasi atau sesungguhnya (Os), jika Os > Oa di sebut efektif.

v  Analisis Laporan Keuangan : Laporan keuangan koperasi selain merupakan bagian dari system pelaporan keuangan koperasi, juga merupakan bagian dari laporan pertanggungjawaban pengurus tentang tata kehidupan koperasi. Dilihat dari fungsi manajemen, laporan keuangan sekaligus dapat dijadikan sebagai salah satu alat evaluasi kemajuan koperasi.
v  Laporan keuangan koperasi pada dasarnya tidak berbeda dengan laporan keuangan yang di buat oleh badan usaha lain. Secara umum laporan keuangan keuangan meliputi :
a)      Neraca.
b)      Perhitungan hasil usaha (income statement)
c)      Laporan arus kas(cash flow)
d)     Catatan atas laporan keuangan.
e)      Laporan perubahan kekayaan bersih sbg laporan keuangan tambahan.
Perbedaan yang pertama adalah bahwa perhitungan hasil usaha pada koperasi harus dapat menunjukkan usaha yang berasal dari anggota dan bukan anggota. Alokasi pendapatan dan beban kepada anggota dan bukan anggota pada perhitungan hasil usaha berdasarkan perbandingan manfaat yang di terima oleh anggota dan bukan anggota.
Perbedaan yang kedua ialah, laporan koperasi bukan merupakan laporan keuangan konsolidasi dari koperasi-koperasi. Dalam hal terjadi penggabungan dua atau lebih koperasi menjadi satu badan hukum koperasi, maka dalam penggabungan tersebut perlu memperhatikan nilai aktiva bersih yang riil dan apabila perlu melakukan penilaian kembali. Dalam hal koperasi mempunyai perusahaan dan unit-unit usaha yang berada di bawah satu pengelolaan, maka di susun laporan keuangan konsolidasi atau laporan keuangan gabungan.




 PENUTUP


Tujuan utama koperasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa koperasi memiliki peran yang besar di masyarakat. Jika banyak orang yang dapat mengambil kemanfaatan koperasi maka ekonomi masyarakat pun akan kuat. Oleh karena itu tak heran jika koperasi disebut sebagai tiang utama perekonomian di Indonesia. Evaluasi keberhasilan koperasi ini tidak boleh terlepas dari ukuran efisiensi bagi badan usaha yang menjalankannya, meskipun tujuan utamanya melayani anggota.




DAFTAR PUSTAKA